13 Apr

Alhamdulillah, selesai sudah SDIT Asy-Syafii Kalisari Pasar Rebo Jakarta Timur, atas izin Allah taala pada Ahad, 08 Jumadil Akhir 1436 H / 29 Maret 2015 melaksanakan Parenting Orangtua yang pertama kalinya. ِAcara Parenting di isi oleh Ustadz Nizar Saad Jabal, Lc., M.Pd., seorang Ustadz, praktisi, pemerhati, dan pemateri kajian Pendidikan Islam, serta penulis buku anak-anak Islam Perisai Quran. Tema Parenting perdana ini cukup menarik, yaitu “Menjadi Orangtua Shalih Sebelum Mendidik Anak Shalih.”

Berikut faidah yang dapat di ambil dari kajian pendidikan orangtua bersama Ustadz Nizar Saad Jabal, Lc., M.Pd.:

  1. Orangtua dan anak ibarat cermin, bersihkan cermin terlebih dahulu agar tampak terlihat indah. Begitu juga dengan orangtua dan anak, perbaiki dulu pribadi orangtua agar pribadi anak pun menjadi baik.
  2. Setiap anak lahir dalam keadaan fitrah, suci dan bersih.
    Dari Abu Hurairah radhiyallhu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

    كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

    “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya? (Anaknya lahir dalam keadaan telinganya tidak cacat, namun pemiliknya lah yang kemudian memotong telinganya, -pen.).” (HR. Bukhari)

  3. Keshalihan anak di jaga oleh orangtuanya. Dan kesucian anakpun diambil oleh orangtuanya.
    فَلَمَّا أَثْقَلَت دَّعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَّنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ (189) فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلَا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا ۚ فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (190)

    “Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”. Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Araf: 189 – 190)

  4. Yang pertama kali dilihat anak adalah rumahnya, orangtuanya. Allah taala berfirman:
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

    “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan bebatuan.” (QS. At-Tahrim: 6)
    Ibnu Abbas berkata:
    “Lakukanlah ketaatan kepada Allah, hindarilah maksiat, perintahkan mereka berdzikir, maka kalian akan selamat.”

  5. Kunci anak, ada pada orangtua dan gurunya, dan hidayah ada pada Allah.
  6. Ajarkan aqidah pada ana sejak kecil. Nabi mengajarkan 9 hal pada Abdullah bin Abbas di usia 5-10 tahun (menurut Imam Ibnu Hajar), tentang Islam dan keyakinan kepada Allah.
  7. Anak berkelahi itu wajar, karena itu memang dunianya anak-anak. Jika sudah berlebihan maka kita bisa batasi dan pahamkan.
  8. Orangtua tidak boleh ikut campur urusan sekolah, cukup memberi saran. Bila ikut campur yang terjadi sekolah akan hancur.
  9. Orangtua tidak perlu banyak mendengar keluhan anak di sekolah, supaya anak lebih kuat dan dewasa.
  10. Didik anak dengan kemandiriannya, jangan di manja, dan tumbuhkanlah kepercayaan terhadap dirinya.
  11. Tujuh tips pendidikan dari Imam Ibnul Qayyim:
    a. Perilaku emosional anak di pengaruhi emosi orangtuanya
    b. Hindari anak anda dari tempat yang tidak bermanfaat
    c. Hindari anak anda dari memiliki kebiasaan mengambil barang orang lain
    d. Jangan biasakan anak berbohong dan menipu orang lain
    e. Jangan biasakan anak malas
    f. Biasakanlah anak agar bangun malam
    g. Hindari makanan dan minuman dari sesuatu yang bisa merusak akal

Alhamdulillah melalui kajian ini, para orangtua semakin terbuka wawasannya dalam mendidik anak. Untuk menjadikan anak shalih tak hanya cukup dengan niat, tapi butuh perubahan besar yang di mulai dari kedua orangtua, kesamaan visi misi, kesamaan mendidik. Bagaiamana tidak, apalah jadinya jika seorang Ayah meminta anaknya pergi mengaji, sedangkan ia sendiri tidak terlihat membaca Al-Quran di hadapan anaknya? Apalah jadinya jika seorang Ibu meminta anak rajin belajar dan membaca, sedang ianya teramat sibuk dengan gadget?

Anak tidak buta, tidak tuli. Karena fitrahnya, anak bagaikan kertas putih yang diwarnai oleh sekehendak orangtuanya. Anak menerima semua pesan dan tingkah laku kedua orangtuanya, tanpa mengetahui benar apa salah apa yang telah dikatakan dan dilakukan orangtua. Karena semuanya terekam dalam memori anak.

Mari kita menjadi orangtua shalih, sebelum mendidik anak kita menjadi shalih.

Ditulis oleh: Asep Kamaludin

Leave a Comment